Program Infaq

1000 Bingkisan Ramadhan

Logo Institusi Zakat Sukses
Zakat Maal
Terkumpul Rp 0
0 Donatur

Secarik kisah perjuangan para “pahlawan keluarga”...

Bu Erlina (43), ibu dari 4 orang anak. Harus menahan perihnya berjuang seorang diri membesarkan keempat anaknya yang masih sekolah. Lima tahun lalu suaminya telah pergi menceraikannya. Sosoknya ramah bersahaja. Lengkungan senyum di wajahnya meneduhkan. Kerutan di wajahnya, menunjukkan ketegaran seorang ibu yang luar biasa. Udara dingin di subuh hari tidak pernah mematahkan semangatnya untuk bangun dan mencari nafkah untuk anak-anaknya. Setiap hari, Bu Erlina bangun dan menanak nasi uduk untuk dijual di pinggir jalan tak jauh dari rumahnya. Di bulan Ramadhan, Ibu Erlina berjualan gorengan dan takjil untuk buka puasa. Pemasukan dari berjualan tak lebih dari Rp70.000 perharinya, belum lagi dipotong untuk membeli modal di hari esoknya. Naiknya harga minyak goreng saat ini sungguh semakin menghimpit. Keuntungan yang tidak seberapa, masih harus dipangkas dengan mahalnya harga minyak goreng. "Ibu seperti Superhero" ucap anaknya. Meski kondisi serba sulit namun Bu Erlina tidak pernah mengeluh di depan anak-anaknya.

-------------------------------------------

Sama halnya dengan Bu Saroh (57), ibu dari 4 orang anak ini juga harus berjuang mengurus seorang anak yang memiliki keterbatasan fisik. Nurhayati (16) namanya. "Kalo Nurhayati belom pernah dibawa ke dokter, ga tau penyakit apa dari kecil. Saya ga ada biaya buat ke dokter," ujar Bu Saroh. Tangan tuanya berkeriput kasar dengan kulit terkelupas, karena terlalu banyak terpapar sabun cuci. Ya, Bu Saroh adalah seorang kuli cuci gosok. Setiap hari berjalan kaki sejauh hampir 1 km untuk bekerja. Anak pertamanya, Sarah, tidak ingin melihat sang ibu berjuang sendirian mencari nafkah. Ia pun membuka warung kecil di depan rumahnya. Meski hanya berisi makanan kecil yang tidak seberapa, Sarah sedih tidak ingin melihat ibunya kelelahan. “Nak, kalo ibu nggak bekerja nanti buat makan sehari-hari kurang. Tidak apa-apa nak ibu bekerja, ibu masih sanggup kok. Selama ibu bekerja tolong jaga adik-adik ya,” ujar Ibu Saroh. Hutang di warung-warung sudah menumpuk, Bu Saroh harus tetap bekerja agar bisa melunasinya.

---------------------------------

Kali ini, cerita dari Kakek Satim (72). Bekerja mencangkul, membersihkan kebun milik orang lain. Serabutan, bekerja apa saja agar bisa tetap makan dan melunasi kontrakan. Kini Kakek Satim tinggal mengontrak di sepetak bangunan yang terbuat dari dinding yang retak-retak dan cat yang sudah mengelupas disana sini. Istri yang dicintainya telah meninggal dunia. Anak-anaknya telah menikah dan hidup masing-masing. Tidak pernah lagi menjenguk Kakek Satim. Bila tak ada panggilan, Kakek Satim terpaksa harus berpuasa. Ketika berpuasa pun belum tentu ia bisa berbuka dengan makanan yang enak dan lezat. Syukur-syukur bisa makan gorengan, ia pun sudah bahagia.

---------------------------------

Sahabat, alangkah baiknya di bulan suci yang penuh berkah ini, kita perbanyak berbuat kebaikan. Seperti membantu Bu Erlina, Bu Saroh dan Kakek Satim yang terus berjuang di usia senjanya. Zakat Sukses membuka program Bingkisan Ramadhan berupa sembako untuk meringankan beban mereka. Agar bisa menjalankan ibadah puasa dengan hati yang tenang dan bahagia. Ulurkan tangan Anda, satukan hati untuk berbagi dengan cara:

Klik tombol "DONASI SEKARANG"
Masukan data diri dan nominal donasi
Pilih metode pembayaran ke no. rekening yang tertera.

Belum ada laporan

Donatur (0)
Urutkan:
Waktu
Nama
Nominal